Ferry Ardiansyah
066ff&lightcolor=0xffffff&logo=http://www.indowebster.com/images/idws.png&autostart=true&usefullscreen=false&s howeq=false&volume=60"type="application/x-shockwave-flash"pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer" menu="false"allowfullscreen="false" scale="noborder" quality="low">


Follow Twitter Saya...

>>>Follow Disini<<<<
Add Facebook Saya...

>>>ADD Disini<<<<
Add Friendster Saya...

>>>ADD Disini<<<<
ALL ABouT LiFe...!!??: 2008

Sabtu, 26 Juli 2008

Hidup Bagai Roda Yang Berputar

Semasa Sekolah di SMA dulu, seingat saya dulu pernah ngobrol ngalor ngidul dengan teman sekelas dalam perjalanan pulang sekolah. Bersama naik metromini atau kopaja sepanjang jalan kami ngobrolin kehidupan tiap orang yang berbeda-beda. Kenapa yah tiap orang nasibnya berbeda-beda? Pertanyaan yang sepele yang jawaban sederhananya adalah.... itu adalah urusannya Sang Maha Kuasa.

Tapi merenungi pertanyaan tersebut, kenapa koq nasib saya berbeda dengan dia yang hidupnya lebih baik. Padahal saya dan dia sama-sama manusia, sama-sama ciptaan Tuhan.... Memang benar, tapi Tuhan telah memberikan manusia akal untuk berusaha mencapai hidup yang lebih baik. Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang kalau orang tersebut tidak berusaha untuk merubahnya.

Kata-kata inilah yang terus mengiang dalam pikiran saya. Memang benar, kalau kita tak berusaha merubah hidup kita bagaimana hidup kita bisa berubah ke arah yang lebih baik. Kawan saya bilang.... Hidup kita ini ibarat sebuah roda yang sedang berjalan. Ada saatnya bagian roda yang mewakili nasib kita berada di posisi bawah. Namun dengan usaha yang keras untuk menggerakkan roda tersebut niscaya bagian yang mewakili nasib kita suatu saat pasti berada di posisi atas.

Sudah bertahun-tahun berlalu, saya merasakan roda saya stag. Tidak berubah, posisinya tetap di bawah. Saya berpikir apa yang salah? Apa usaha saya kurang untuk merubah nasib? Atau memang kurang beruntung?..... Tapi suatu hari secara tak sengaja saya menemukan jawabannya.

Bareng seorang kawan kerja yang nasibnya ga jauh beda, kami bicara tentang betapa baiknya nasib kawan-kawan saya yang lain. Ada sedikit rasa iri yang tidak bisa saya pungkiri melihat nasib baik orang lain. Rasa iri itu yang membuat saya terus berpikir mundur, selalu pesimis, tidak menerima kenyataan.Ternyata itu adalah satu hal yang membuat roda saya tidak bisa berputar. Rasa iri itu adalah sebuah batu yang telah menghalangi jalannya roda nasib saya selama ini.

Akhirnya saya lega telah menemukan hambatan yang telah menghalangi jalannya roda nasib saya. Kemudian saya mengambil batu tersebut dan melemparnya jauh-jauh dari jalan yang akan dilalui roda nasib saya. Dan Insya Allah nasib saya akan berubah seperti keinginan saya.

Lebih Mudah melihat Kesalahan Orang Lain..!!

Gue punya pengalaman unik waktu mao ngisi bensin di daerah sekitar Cilengsi bareng salah seorang kawan gue. Saat itu Premium baru aja naik harganya jadi 6000 rupiah, makin susah aje nih hidup. Pas masuk pom antrian lumayan panjang juga, dengan sabar gue dan kawan gue nunggu hingga akhirnya tiba juga giliran diisi tangki gue. Biasanya gue bayar ceban dapet 2 liter lebih, sekarang boro-boro, malah kurang.
Sementara tangki lagi diisi gue memandangi sekeliling, di depan gue ada anak muda yang baru aja tangkinya kelar diisi. Selesai, ia segera menstarter motornya tanpa menyadari posisi standar motornya masih terpasang dan segera melajukan motornya dengan kencang, tanpa sempat gue memberitahu. Gue yang juga telah selesai segera bergegas juga nyalahin motor maksudnya mao ngejar orang tadi untuk bilangin standar motornya, baru beberapa hentakan gue berjalan terdengar suara teriakan seorang ibu yang sedari tadi ada di depan antrian..
"Standar... Standar...!" Teriaknya, tapi orang tadi malah makin cepat melajukan motornya tanpa menghiraukan teriakan ibu tadi. Tanpa pikir panjang gue ikut berteriak keras ke orang tadi..
"Standar... Woi.. Standar...!" Dengan lantangnya, tapi ibu itu malah terlihat bingung mendengar gue berteriak. Hingga kawan gue menyadari dan berkata..
"Loe gmane sih, bang diteriakin standar malah ikut-ikut teriak!"
"Lah emang knape, kan gue bener ngebilangin.."
"Yang diteriakin tuh standar loe bukan standar orang tadi..!"kata kawan gue sambil tertawa. Masya Allah ternyata benar standar gue juga masih terpasang, pantes aja tuh ibu bingung. Orang dibilangin koq malah teriak-teriak..

Gue segera merenungi kejadian tersebut dan menarik kesimpulan bahwa "MEMANG MUDAH UNTUK MELIHAT KESALAHAN YANG DIPERBUAT OLEH ORANG LAIN KETIMBANG MENYADARI KESALAHAN YANG DIPERBUAT OLEH DIRI SENDIRI".

Senin, 12 Mei 2008

SoNGonG..!??

Masa SMP dulu gue lumayan bandel. Suka bolos alias madol, kadang uang SPP dijajanin, ngerokok, dan macam-macam kenakalan remaja seusia saat itu. Nah, ada kejadian unik waktu itu yang memberi pelajaran agar gue dan teman-teman lain ga sembarangan bicara, apalagi sama orang tua alias songong atau ngelunjak...

Waktu itu lagi zamannya memanggil nama depan dengan nama belakangnya. Misalnya nama temen gue Deden Kurniawan, maka anak-anak semua memanggil Kurniawan. Atau Didi Riyadi maka dipanggil Riyadi.

Siang itu sepulang sekolah, kami beramai-ramai berniat mendatangi rumah salah seorang kawan kami yang bernama Iwan Zaenudin. Hari itu dia tidak masuk sekolah, jadi kami berinisiatif menjenguknya, takut kalau-kalau sakit. Kami sekitar belasan orang yang kebanyakan laki-laki menelusuri jalan-jalan kecil semacam gang menuju rumah iwan. Canda tawa serta keisengan dan kejahilan anak-anak mewarnai sepanjang perjalanan kami menuju rumah Iwan...

Tiba didepan rumah Iwan terlihat tak ada orang, tapi pintunya tidak terkunci rapat, timbul inisiatif salah seorang teman untuk mengucapkan salam, Assalamualaikum...!!" tapi diiringi keisengan dengan memanggil nama Iwan dengan nama belakangnya, Zaenudin..
"Din, din... Zaenudin... Assalamualaikum...!!" Teriak anak-anak serempak dan ramai..
"Din, loe dirumah kaga... keluar lah...!!" Teriak yang lain...

Mendengar suara ribut dan gaduh, keluarlah seorang Laki-laki setengah tua, kumisan lumayan menyeramkan...
"Ya, ada apa?Mencari siapa..?" Tanyanya Tegas..
"Anu, Pak... Zaenudin ada ga?" Tanya salah seorang..
"Iye, Zaenudin ada pak?" Sahut yang lain.
" Ya, saya Zaenudin ada apa?" Jawab laki-laki itu setengah marah...

Masa ALLah... Kami pucat semua dan siap-siap beranjak mau kabur karena takut.. Rupanya Zaenudin itu nama Bapaknya si Iwan.. Sejak saat itu ga lagi-lagi deh manggil nama temen pake nama belakangnya, takut kalau itu nama Bapaknya, hehehe...

SaLah MasuK KeLas..!!??

Kembali sedikit ke masa lalu. Gue punya pengalaman lucu waktu sekolah dan sedang bandel-bandelnya waktu itu. Biasa tiap mau masuk sekolah, gue ma kawan-kawan nongkrong dulu bentaran di depan taman di luar sekolah sambil nunggu-nunggu waktu masuk sekolah. Biasalah kegiatan anak yang baru menanjak remaja, teriak-teriak godain cewek lewat, kadang-kadang ada yang berantem juga, sih. maklum masih jiwa muda, masih labil.
Nah, di sini gue yang keasikan nongkrong ga menyadari kalo waktunya masuk sekolah udah lewat. padahal anak-anak yang lain satu persatu udah masuk kelas. gue yang masih asik ngerokok karena nanggung tersentak begitu ngeliat jam udah menunjukan pukul 7 lewat dikit. Ternyata anak-anak yang masih nongkrong itu emang punya niat bolos sekolah. ditawarin ikut bolos, sih tapi engga, deh.. hari ini pelajaran matematika kesukaan gue dah gitu ada ulangan lagi...
Segera saja gue berlari menuju sekolah yang ga jauh dari tempat tongkrongan itu. Gue berlari secepatnya begitu melihat gerbang mau ditutup oleh penjaga sekolah..
"Tunggu, tunggu.. Om jangan ditutup dulu...!" Teriak gue langsung nyelonong masuk menuju kelas. Mindik-mindik dikit begitu melewati kantor guru karena takut ketauan. Begitu terlewati segera gue menelusuri lorong kelas yang panjang.. seingat gue kelas gue waktu itu letaknya di ruang yang ke lima.
Satu persatu gue lewati ampe ngos-ngosan hingga ga konsen lagi udah berapa kelas gue lewati.
Begitu sampai, pintu kelas masih terbuka. Tanpa pikir panjang gue langsung nyelonong masuk, aman... gurunya belom datang, pikir gue tenang. Gue langsung menuju bangku gue paling ujung kiri dekat jendela belakang. Begitu sampai dan duduk di bangku gue menoleh ke samping kanan, biasa mo nanya temen sebangku gue, tapi..
"Lah, Lu ngapain di sini, wan?" Tanya gue ama si iwan anak kelas sebelah..
"Loe yang ngapain, panjul!" Iwan bingung... Seisi kelas menoleh semua ke arah gue. Wajah mereka bingung semua, udah gitu Bu Ross guru Bahasa Indonesia juga datang. Perasaan bukan pelajaran Bahasa Indonesia, pikir gue. Gue konsen sejenak melihat sekeliling... Ini bukan wajah-wajah temen-temen sekelas gue, kayanya ada yang salah...
"Loe salah masuk kelas, pa'ul.. kelas loe di sebelah!" Teriak anak yang lain sambil pada tertawa keras.
Tengsin berat, gue langsung cabut ambil langkah seribu tanpa pamit ama bu guru bahasa indonesia yang ikutan nyengir juga...

Minggu, 11 Mei 2008

DiKiranya MushoLah, KaLi..

Kejadiannya waktu lift atau elevator masih merupakan benda yang langkah dan jarang kita temui. Pengalaman ini terjadi saat nyokap gue masih kecil, waktu itu gedung Sarinah Thamrin baru berdiri dengan megahnya sebagai salah satu bangunan modern di Jakarta. Sebagai orang biasa yang penasaran ingin tahu bagaimana rasanya masuk gedung bertingkat yang megah, kakek gue saat itu berinisiatif mengajak semua keluarga buat jalan-jalan refreshing masuk ke gedung Sarinah. Bersama nenek, nyokap gue dan mponya, mereka berempat berangkat menelusuri jalan menuju Thamrin melalui Kebon Kacang.

Sesampai di sana, betapa takjubnya mereka melihat kemegahan gedung sarinah. Banyak hal-hal baru yang mereka temui di sana yang membuat kagum pada masa itu. Yang paling dikagumi saat itu adalah lift atau elevator, dan mereka berniat untuk mencobanya…..

Sesampai ditempat yang dimaksud, kakek gue segera membawa keluarganya masuk lift, mencoba bagaimana rasanya naik lift. Lift bergerak naik. Satu persatu orang keluar begitu tiba di lantai yang mereka tuju. Hingga tinggal nyokap sekeluarga menuju lantai paling atas. Begitu pintu lift terbuka kakek mengajak mereka keluar. Ketika keluar, ada perasaan bingung dialami nenek gue yang celingak-celinguk mencari sesuatu ke arah lantai. Nyokap gue bertanya,"Nyari apaan, ma?". Nenek gue dalam keadaan masih bingung menjawab, "Sendal emak! Siape yang ambil, ye!?". "Lho emangnya sendalnya emak kemanain?" Nyokap gue dan Mponya ikut bingung. Nenek gue dengan lugunya menjawab, "Tadi sendalnye emak buka pas depan pintu lift, soalnye karpet di dalem lift bersih banget, sendal emak kan kotor". Mendengar itu nyokap gue dan mponya tertawa terpingkal-pingkal. Kakek gue ikut tertawa…. Dikiranya masuk ke Musholah, kali…

Surat Buat Sahabat

Sahabat,
Izinkan aku mengungkapkan beberapa hal yang mengganjal dada ini, dan dengan segala kerendahan hati kumohon kau sudi untuk membacanya hingga selesai.
Sahabat,
Kukenal dirimu melalui salah satu mata rantai kisah yang pernah kujalani beberapa waktu lalu. Saat itu aku merasakan ada suatu kelainan yang mengganggu jalan pikiranku. Tapi aku menganggap terlalu dini untuk menyebutnya sebagai cinta, karena selama ini kita belum pernah mengujinya.
Sahabat,
Aku kagum pada keceriahanmu, meski kutahu bahwa kau pura-pura bahagia. Dan aku juga kagum pada keteduhan wajahmu, karena di sana sempat kulihat sepasang bola mata yang mengingatkan aku pada seseorang yang hidup abadi dalam khayalanku.
Sahabat,
Mengapa kau justru menjauh pada saat aku amat membutuhkanmu?



Cerita Senja

Adzan Maghrib berkumandang seiring lenyapnya sang mentari di ufuk barat sebagai tanda dimulainya waktu malam. Beberapa bocah dekil tampak riang berlari pulang menyerbu makanan yang tersisa. Sementara itu bala tentara serangga bersayap kian merajalela memasuki rumah-rumah penduduk. Dan sudah barang tentu bukan rumah-rumah mewah yang dikunjunginya, sebab para serangga juga tahu bahwa mengusik ketenangan orang-orang miskin adalah pekerjaan yang paling menyenangkan.